Rabu, 19 Desember 2012

Inspirasi Dari Kekasih

Kekasih di Masa Muda:
  1. Tracy Marander (pengaruh besar terciptanya lagu “About A Girl”)
http://www.youtube.com/watch?gl=ID&hl=id&v=AhcttcXcRYY

 Tobi Vail (pengaruh besar terciptanya lagu “Aneurysm”)

http://www.youtube.com/watch?v=PvwqSMRtoSI

kurt_cobain3Pengaruh Musik:
Pengaruh musik Kurt Cobain saat masih kanak-kanak adalah The Beatles, di mana bibinya sering memutarkan lagu ‘Hey Jude’ saat Kurt Cobain masih kecil. Selain itu, Kurt Cobain sangat tergila-gila dengan musik rock klasik era 70-an seperti Queen, Led Zeppelin, Aerosmith, Black Sabbath, Kiss, AC/DC, dan sebagainya. Seiring waktu, pemahaman musik dan favoritnya mulai berganti. Ia pernah menjadi fan fanatik musik punk rock. Ia sangat mengidolakan band asal Britania Raya, Sex Pistols. Ia juga menyukai musik alternative rock, yang bisa memadukan berbagai aliran ke dalam musik rock sebagai musik dasar yang ia sukai. Kurt Cobain suka mendengarkan banyak lagu, dan menyukai berbagai macam aliran musik. Dia lebih condong ke aliran punk rock, hingga pada akhirnya menciptakan aliran musik sejenis grunge dengan band-nya Nirvana.

Lagu Sendu Pemuda Jenius

Kurt Donald Cobain


Kurt CobainKurt Cobain terlahir dari broken home terutama ketika kedua orang tuanya bercerai saat ia berumur 8 tahun. Kurt menjadi pemurung, dan sering menyendiri. Ia menulis di tembok kamarnya “ I hate mom”, I hate Dad”, Dad hates mom, mom hate dad, it simply makes you want to be sad. Sejak itu Kurt tak betah di rumah dan sering keluyuran. Talenta musiknya terasah sejak kecil. Tahun 1975 kurt kecil pernah ikut les drum dan jarang pulang. Saat ulang tahunnya ke 14 ia dibelikan gitar oleh pamannya. Gitar itu terus dimainkan siang dan malam. Ia amat fasih memainkan lagu Stairway milik Led Zappelin, another one bites to dust milik queen. Melihat Kurt keranjingan main gitar ibunya sangat khawatir hingga menyuruhnya berhenti main gitar namun nasehat ibunya tak dihiraukannya.

Kegilaan Kurt dengan musik sampai membuatnya keluar dari sekolah dan diusir ibunya dari rumah. Kurt terus keluyuran tiap malam, bergabung dengan komunitas musik, hingga sampai tidur di kolong jembatan, kelaparan hingga mencari makan dengan memancing ikan di sungai. Suatu hari Kurt menceritakan kepedihannya ini dengan lagu populernya Something In The Way.

Kurt memiliki sifat pendiam, susah berkomunikasi, mempunyai sifat menutup diri sehingga ia sulit menemukan partner band. Ia baru menemukan partner setelah bertemu Cris Novoselic. Bersama Cris ia mencari partner lain dan akhirnya bertemu Dave Grohl. Ketiga remaja ini kemudian membentuk band Nirvana. Mereka bertiga adalah pemusik idealis yang tak menghiraukan aliran musik, pakem pembuatan lirik, atau aransemen musik. Mereka mengalir seperti kata hati nuraninya. Lagu-lagunya pun banyak bercerita tentang pemberontakan, pemberontakan sosial, dan kepedihan hidup.

Biografi Kurt Cobain
Nirvana terus melejit seperti meteor dalam dunia musik internasional setelah menerbitkan album pertama mereka bertajuk “Bleach”, bahkan album Nevermind mendapatkan penghargaan doble platinum. Kurt dan Nirvana akhirnya terus berkeliling kota-kota besar di Amerika dan Eropa untuk promosi album. Sambutan khalayak di dunia di luar dugaan. Nirvana dan Kurt menjadi idola baru anak-anak muda di Eropa dan Amerika, jadwal konser, pembuatan video klip dan semua kesibukannya sebagai superstar membuat Kurt justru depresi. Ia menginginkan hidup secara wajar, bebas tanpa tekanan, namun yang terjadi justru sebaliknya. Mereka dikejar-kejar penggemar, jadwal konser, jadwal promosi, pembuatan video klip sebagai tuntutan bisnis dari perusahaan rekaman. Album-album Nirvana meledak di seantero dunia. Gaya berpakaian, cara bermusik, aliran musik mereka di contek abis oleh remaja di Amerika dan Eropa. Kurt akhirnya kecanduan heroin yang semula digunakan untuk menahan rasa sakit akibat maag kronis dan penyakit sciolisis yang dideritanya sejak lama. Kurt berkali-kali masuk program rehabilitasi narkoba.

Puncak depresi Kurt terjadi saat Kurt Cobain pingsan ketika konser di Munich Jerman tanggal 1 Maret 1994. Sejak meninggalkan rumah sakit tanggal 8 Maret 1994 Kurt sering melakukan percobaan bunuh diri hingga istrinya meminta bantuan polisi untuk mengawasinya. Tanggal 1 April 1994 Kurt kembali masuk di panti rehabilitasi narkoba. Ia kemudian kabur dari tempat tersebut tanggal 2 April 1994. Polisi akhirnya turun tangan mencari keberadaan Kurt, baru pada tanggal 8 April 1994 seorang montir listrik menemukan Kurt di garasi rumahnya dengan keadaan sudah meninggal.

Sebuah Ilustrasi Kurt Cobain Sebelum Bunuh Diri

Sebelum fajar, Kurt Cobain terbangun ditempat tidurnya. Televisi menyala, menyiarkan acara MTV tetapi tanpa suara. Dia berjalan menuju stereo setnya dan menyetel "Automatic for the People" dari REM, lalu menyalakan sebatang Camel Light dan membaringkan diri ditempat tidur dengan mendekap sebuah kertas ukuran besar dan sebuah pena merah di dadanya. Dalam waktu singkat kertas kosong itu mampu menggugah niatnya untuk menulis, menulis kata-kata yang telah dibayangkannya selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun dan bahkan beberapa dekade lamanya, namun dia tidak segera menulis karena kertas besar itu terlihat kecil baginya, terbatas. Sebenarnya dia sudah menulis surat pribadi yang panjang untuk istri dan anak perempuannya yang diletakkan di bawah salah satu dari bantal-bantal yang beraroma parfum Courtney.

Surat terakhir kurt


“Kamu tahu, aku mencintaimu. Aku mencintai Frances. Aku minta maaf. Tolong jangan ikuti aku. Maaf, maaf, maaf, (berulang kali ia menuliskan kata “maaf” sehingga memenuhi kertas) maafkan aku. Aku akan selalu ada (dicoret) - Aku akan melindungimu. Aku tak tahu kemana aku akan pergi. Tapi aku tak bisa tinggal lebih lama disini.”

Untuk Boddah

Karena ditulis oleh seorang tolol kelas berat yang jelas-jelas lebih pantas menjadi seorang pengeluh yang lemah dan kenakak-kanakan, surat ini seharusnya mudah dimengerti. Semua peringatan dari pelajaran-pelajaran punk rock selama bertahun-tahun. Setelah perkenalanku dengan – mungkin bisa dibilang – nilai-nilai yang terikat dengan kebebasan dan keberadaan komunitas kita ternyata terbukti sangat tepat. Sudah terlalu lama aku tidak lagi merasakan kesenangan dalam mendengarkan dan juga menciptakan lagu sama halnya seperti ketika aku membaca dan menulis. Tak bisa dilukiskan lagi betapa merasa bersalahnya aku atas hal-hal tersebut. Contohnya, sewaktu kita bersiap di belakang panggung dan lampu-lampu mulai dipadamkan dan penonton mulai berteriak histeris, hal itu tidak mempengaruhiku, laiknya Freddie Mercury, yang tampaknya menyukai, menikmati cinta dan pemujaan penonton. Sesuatu yang membuatku benar-benar kagum dan iri. Masalahnya, aku tak bisa membohongi kalian. Semuanya saja. Itu tidak adil bagiku ataupun kalian. Kejahatan terbesar yang pernah aku lakukan adalah menipu kalian dengan memalsukan kenyataan dan berpura-pura bahwa aku 100 persen menikmati saat-saat diatas panggung. Kadang aku merasa bahwa aku harus dipaksa untuk naik keatas panggung. Dan aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk menghargai paksaan itu, sungguh, Tuhan percayalah kalu aku sungguh-sungguh melakukan itu, tapi ternyata itu tidak cukup. Aku menerima kenyataan bahwa aku dan kami telah mempengaruhi dan menghibur banyak orang. Tapi, aku hanya seorang narsis yang hanya mmenghargai sesuatu jika sesuatu itu sudah tidak ada lagi. Aku terlalu peka. Aku butuh sedikit rasa untuk bisa merasakan kembali kesenangan yang kupunya ketika kecil. Dalam tiga tur terakhir kami, aku mempunyai penghargaan yang lebih baik terhadap orang-orang, baik dalam kapasitasnya sebagai pribadi maupun sebagai penggemar, tapi aku tetap tidak bisa lepas dari rasa frustasi, perasaan bersalah pada diriku sendiri, dan empatiku pada semua orang. Semua orang punya sisi baik dan milikku adalah bahwa aku terlalu mencintai orang-orang. Saking cintanya itu membuatku merasa sangat sedih. Aku adalah Jesus man, seorang Pisces yang lemah, peka, tidak tahu terimakasih, dan sedih. Kenapa kamu tidak menikmatinya saja ? tidak tahu. Aku punya istri yang bagaikan dewi yang berkeringat ambisi dan empati dan seorang putri yang mengingatkanku akan diriku sendiri dimasa lalu. Penuh cinta dan selalu gembira, mencium siapa saja yang dia temui karena menurutnya semua orang baik dan tidak akan menyakitinya. Itu membuatku ketakuta sampai-sampai aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa membayangkan Frances tumbuh mennjadi rocker busuk yang suka menghancurkan diri sendiri dan menyedihkan seperti aku sekarang. Aku bisa menerimanya dengan baik, sangat baik, dan aku bersyukur, tapi aku telah mulai membenci semua orang sejak aku berumur tujuh tahun. Hanya karena mereka terlihat begitu mudah bergaul, dan berempati, empati ! Kupikir itu disebabkan karena cinta dan perasaanku yang terlalu besar pada orang-orang. Dari dasar perut mualku yang serasa terbakar, aku ucaokan terimakasih atas surat dan perhatian kalian selama ini. Aku hanyalah seorang anak yang angin-anginan dan plin plan! Sudah tidak ada semangat yang tersisa dalam diriku. Jadi ingatlah, lebih baik terbakar habis daripada memudar. Damai, cinta, empati. Kurt Cobain.
Frances dan Courtney, aku akan berada di altar kalian
Kumohon teruslah hidup Courtney

untuk Frances
untuk hidupnya yang akan lebih bahagia
tanpa aku. AKU CINTA PADAMU. AKU CINTA PADAMU.

Meski berat baginya untuk menulis surat pertama tadi, dia tahu surat kedua yang akan ditulisnya akan sama pentingnya dan dia harus berhati-hati memilih kata-katanya. Lalu dia menulis judul surat itu - “To Boddah” – nama teman khayalannya sewaktu kecil. Dia menggunakan huruf-huruf kecil yang ditulis dengan sangat berhati-hati dan menulis semuanya dalam suatu kesatuan tanpa mengindahkan tanda baca. Dia menyusun kata-katanya secara cermat, untuk memastikan kata-katanya jelas dan mudah dimengerti.

Biografi Kurt Cobain
Setelah selesai menulis surat, dimasukkannya kedalam saku dan dia bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil tas nilon berisi senapan, sekotak peluru dan sebuah kotak cerutu berisi heroin dari lemari bajunya. Dengan perlahan dia berjalan menuruni Sembilan belas anak tangga yang lebar. Akan ada banyak darah, banyak sekali darah dan kengerian yang tidak dia inginkan untuk terjadi didalam rumahnya, karena dia tidak ingin menghantui rumahnya dan meninggalkan anak perempuannya dengan mimpi buruk seperti mimpi-mimpi yang pernah dialaminya.

Kurt melewati dapur, mengambil sekaleng root beer. Dia membuka pintu menuju halaman belakang dan berjalan melewati teras kecil, berjalan dengan santai menuju rumah kaca yang berjarak 20 langkah, menaiki tangga kayu dan membuka pintu menuju taman. Dia duduk di lantai bangunan satu ruangan itu, mengamati keadaan dari pintu depan. Layaknya seorang sutradara hebat, dia sudah merencanakan hal ini sampai pada detail terkecil sekalipun, sudah banyak gladi besih (percobaan bunuh diri) yang dia lakukan beberapa tahun belakangan. Lalu dia mengambil surat dari sakunya, masih ada sedikit ruang tersisa disitu. Dia meletakkannya di lantai dan menulis dengan huruf yang lebih besar - “Kumohon teruslah hidup Courtney, untuk Frances, untuk hidupnya yang akan lebih bahagia tanpa aku. Aku cinta padamu. Aku cinta padamu.” – untuk mengakhiri suratnya.

Dia mengeluarkan senapan dari tasnya. Lalu dia pergi ke wastafel untuk mengambil sedikit air untuk memasak heoinnya lalu duduk kembali. Dia mengeluarkan kotak berisi 25 butir peluru, membuka dan mengambil 3 butir, memasukkannya kedalam magasin, mengokangnya, lalu melepas pengamannya. Dia menghisap Camel Lightnya yang terakhir dan meminum beberapa teguk root beer. Lalu Kurt mengambil plastic kecil berisi heroin pada kotak cerutunya, heroin jenis black tar ala Meksiko seharga 100 dolar – sebuah jumlah heroin yang banyak. Dia mengambil setengahnya, seukuran penghapus pensil, dan meletakkannya diatas sendik.

Secara cermat dan sangat ahli Kurt menyiapkan heroin dan alat suntiknya, menyuntikkannya diatas siku. Dia meletakkan alat-alat itu kembali dalam kotak dan merasakan dirinya melayang. Kurt menyingkirkan peralatannya, melayang ringan dan makin ringan lagi, sementara nafasnya justru semakin berat. Dengan kekuatan yang tersisa Kurt mengambil senapan yang berat dan mengarahkannya kelangit-langit mulutnya, pelatuknya juga tidak kalah berat dari senapannya. Ini mungkin akan sangat keras dia sangat yakin akan hal itu. Dan kemudian dia pergi.

Kurt Donald Cobain (Memoriam)

Kurt Donald Cobain ( 1967-1994 )

8 April 1994, seorang pegawai Veca Electric bernama Gary Smith menemukan sesosok tubuh tergeletak di atas garasi rumah milik Kurt Cobain. Sosok tubuh itu sudah kaku dengan lubang bekas peluru di kepalanya.

Kurt Donald Cobain, atau yang lebih dikenal dengan nama Kurt Cobain ditemukan tewas di atas garasi rumahnya, beberapa hari setelah melarikan diri dari pusat rehabilitasi narkoba. Otopsi pihak berwajib mengungkapkan kalau Kurt meninggal sejak 3 hari sebelumnya akibat bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.
Lelaki kidal kelahiran 20 Februari 1967 itu mengakhiri hidupnya justru ketika karier dan ketenarannya berada di puncak. Bandnya bersama Krist Novoselic dan Dave Grohl yang bernama Nirvana sedang berada di puncak, dipuja jutaan orang di seluruh dunia dan dianggap sebagai ikon baru dunia rock, ikon baru untuk sebuah pemberontakan terhadap kemapanan.
Akhir 1980an, dunia rock di seluruh dunia sedang lesu. Era glam rock, hair rock, speed metal, heavy metal atau apalah sebutan orang sedang memudar. Band-band semacam Guns N’ Roses, Bon Jovi, Metallica, Slayer, AC/DC dan semacamnya sedang berada dalam masa yang kurang kreatif.
Dari sisi barat pantai Amerika Serikat, tepatnya di kota Seattle Washington hadir serombongan anak-anak muda dengan gaya yang berbeda. Mereka tumbuh membawakan musik yang lebih sederhana dengan distorsi yang lebih kasar plus penampilan yang apa adanya. Mereka hadir tanpa hair spray di rambut, celana kulit ketat, sepatu boot tinggi atau riasan di wajah. Mereka mendobrak tradisi rock yang sudah bertahan lebih dari satu dekade.
Anak-anak muda itu naik ke panggung dengan kemeja flanel khas penebang kayu di west coast, jins belel yang kadang sobek, atau mungkin dengan celana pendek dan sepatu doc mart atau laras. Salah satunya adalah Nirvana.
Dengan cepat Nirvana menjadi sorotan. Bersama beberapa band lain seperti Pearl Jam, Soundgarden dan Alice in Chains juga ikut merasakan madu kesuksesan tersebut. Di antara semua band asal Seattle, periode awal 90-an memang jadi tahunnya Nirvana. Nevermind terjual jutaan kopi di seluruh dunia, sorotan lampu mengarah ke trio tersebut. Praktis hanya Pearl Jam yang mampu menyaingi Nirvana.


Kurt, beban besar jatuh ke pundaknya


Sebagai vocalist, Kurt praktis menanggung beban paling berat. Seluruh sorotan jatuh tepat di wajahnya. Kurt yang aslinya adalah pribadi yang labil makin menjadi labil. Kurt mulai tidak kuat menahan beban sebagai publik figur, pun ketika merasa kehidupan pribadinya mulai tak nyaman. Kurt malah merasa ribuan fansnya sama sekali tidak mengenal dirinya. Kurt merasa mereka hanya suka Nirvana tanpa tahu esensi apa yang coba dikumandangkan Kurt.

Perlahan Kurt mulai jatuh pada kecanduan narkoba. Dia menghabiskan ratusan bahkan ribuan dollar sehari untuk memenuhi ketergantungannya pada heroin. Perlahan tapi pasti hidupnya makin tenggelam dalam kekelaman. Perkawinannya dengan Courtney Love sang vocalist The Hole tidak membuat hidupnya makin tenang. Mereka berdua kadang mabuk narkoba bersama-sama meski belakangan Courtney sudah meninggalkan barang haram itu dan mencoba membuat Kurt ikut sembuh.
Kehadiran Frances Bean Cobain sempat membuat Kurt sedikit lebih tenang. Dia ingin hidup seperti ayah pada umumnya, membesarkan putrinya seperti ayah-ayah lainnya. Tapi itu hanya sebentar.
Kurt kembali tenggelam dalam jerat heroin. Perlahan-lahan dia mulai dijauhi teman-teman dekatnya, termasuk para personil Nirvana. Hanya Courtney istrinya dan Wendy ibunya yang mencoba mendorongnya untuk ikut rehabilitasi. Kurt menurut dan masuk pusat rehabilitasi.

Tapi, perjalanan hidup seseorang memang tak gampang ditebak.
Kurt kabur dari pusat rehabilitasi yang dijalaninya, menghilang beberapa hari sebelum akhirnya ditemukan tewas dengan kepala hancur akibat terjangan peluru yang ditembakkannya sendiri. Sekotak rokok dan selembar farewell notes tergeletak di dekatnya. Kurt tidak sanggup lagi menahan beban depresi yang dibawanya selama ini. Dia memilih bergabung dengan klub 27 forever bersama Janis Joplin dan Jimmi Hendrix, deretan pemusik yang meninggal di usia 27 tahun.
Kurt pergi ketika jutaan orang menempatkannya sebagai ikon sebuah perlawanan di era yang baru. Kematian itu justru membuat nama Kurt abadi. Tujuh belas tahun setelah kematiannya, namanya masih disebut. Jutaan orang sepertinya masih menyembah dirinya sebagai ikon perlawanan. Sebuah harga yang mahal untuk sebuah keabadian.

last day

http://cixipangrunge.blogspot.com/2012/08/last-day.html

Biografi Kurt Cobain

Musik, Gaya Hidup, Narkoba dan Kematian!

“Aku, sama sekali tidak menikmati gemerlap di balik panggung.
Ketika penonton mulai berteriak histeris saat memuja idolanya.
Aku iri dengan Freddie Mercury,
Yang sanggup menyukai pemujaan dari penonton…”
- Kurt Cobain, 5 April 1994 (Heavier Than Heaven)



13390261261587519341
Add caption
Cover Heavier Than Heaven 2005 (dok. pribadi)
Sebuah penggalan kalimat dari isi surat Kurt Cobain, yang tertuang dalam buku biografi “Heavier Than Heavean” di hari terakhirnya di pertengahan tahun 1994 silam. Musisi bernama lengkap Kurt Donald Cobain, kelahiran 20 Februari 1967 dan tewas -diperkirakan- 5 April 1974. Tidak hanya dikenal sebagai sosok kontroversial, dan pendobrak aliran musik saat itu, melainkan juga membuat sebuah genre baru dalam kehidupan remaja di dunia.
Celana jeans belel, sepatu kets butut, rambut gondrong awut-awutan, baju dekil dan wajah lusuh namun penuh kreatifitas ala seniman. Itulah ciri khas dari lahirnya genre musik Seattle Sound yang kerap disebutGrunge.
Tak dapat dipungkiri, meski era kejayaannya tergolong singkat, dari tahun 1987 album debut Bleach hingga kematiannya tujuh tahun kemudian. Saat itu muncul sebuah kata mutiara di kalangan musisi, bahwa Kurt telah mati, tapi Grunge -yang menjadi gaya hidup- tetap bertahan, minimal sampai kini.
Seperti ucapannya yang sangat melegenda dari isi surat, “It’s Better to burn out than to fade away”. Ya, Kurt lebih memilih tidak sama sekali, dari pada meredup perlahan hingga mati dengan sendirinya. Kurt, tepatnya Nirvana lebih memilih seperti The Beatles atau Queen, band mereka bubar tanpa adanya pernyataan bubar, karena ditinggal sang frontman.
Daripada Guns N’ Roses, Metallica, Rage Against The Machine, bahkan Creed yang disebut sebagai era baru Grunge di akhir dekade 2000an. Mereka telah perlahan meredup karir bermusiknya, hingga tidak terdengar sama sekali. Guns N’ Roses terlalu lama berkonflik antar personel akibat keegoisan Axl Rose hingga menyebabkan perpecahan.
Metallica, zaman musik metal yang terkenal dengan salam tiga jari dan suara ngak-ngik-nguk, dianggap stagnan alias tiada perubahan sejak era Black Sabbath dan Led Zeppelin hingga anak cucu mereka, Linkin Park. Sementara Rage Against The Machine (RATM) dan Creed, seperti biasa, tergerus oleh sang waktu karena masalah internal hingga pembubaran personel.


Buku Heavier Than Heaven, bukan hanya sekadar menuliskan kisah ulang pertarungan genre musik atau personil pribadinya. Melainkan juga sisi lain dari Kurt di panggung, luar rumah, hingga panti rehabilitasi dan detik-detik menjelang bunuh dirinya.
Biografi setebal 548 halaman ini (versi bahasa Indonesia), terlepas dari kontroversi wawancara yang dilakukan sang penulis, Charles R. Cross terhadap narasumber orang-orang terdekat Kurt. Yang kerap diberitakan sebagai tulisan asal-asalan, namun tetap dinilai sebagai kisah nyata dari riwayat sang musisi kord tiga jari.
Wawancara Charles kepada 400 orang terdekat dan yang mengetahui hari terakhir Kurt, dilakukannya selama empat tahun dengan marathon. Courtney Love yang merupakan sang istri, Tracy Marander mantan pacar Kurt, Kirst Novoselic dan Dave Grohl personel Nirvana, Susan Silver manajer di Geffen Record, dan ratusan nama lagi termasuk bukti forensik dari laporan kepolisian di tempat kejadian perkara.
Secara keseluruhan, Charles melukiskan kisah Kurt dengan sangat detail, seperti “I hate my self and I want to die” yang mengisahkan kegalauan sang rocker dalam menghadapi kenyataan hidupnya yang melonjak drastis. Dalam buku, diceritakan dengan gamblang tanpa tedeng aling-aling, yang mungkin untuk sebagian orang terutama remaja yang membacanya mengernyitkan dahi.
Termasuk saat Kurt bercinta di sebuah hotel dengan Courtney Love dan ketika mulutnya berbusa usai menyuntikkan heroin yang beberapa kali hampir membunuhnya. Memang jarum suntik dan sebagainya tidak berhasil membunuh dirinya, karena ditemukan ia tewas dengan kepala remuk akibat menembakkan sendiri senapan ke kepalanya. Tetapi, narkoba yang membuat imajinasi hiperbolanya menjadi melayang dan tidak kuat menahan beban berat seorang rocker. Kurt iri dengan Freddie Mercury, vokalis Queen yang mengidap Aids tapi sangat menikmati peran sebagai frontman band saat manggung.
Namun, itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Riwayat hidup penyuka kartun Hello Kitty ini bukan hanya soal musik, panggung, glamor, atau pun kematiannya sendiri. Tanpa narkoba, mungkin Kurt akan menjalani hidup “normal” sebagaiaman Axl Rose, James Hetfield atau rocker lainnya. Tetapi, ia telah memilih jalan yang dianggapnya benar walau kenyataannya salah.
Setidaknya, buku biografi yang saya dapat sejak tahun 2005  ini telah menunjukkan secara tidak langsung, bahwa penggunaan Narkoba tidak hanya menjerumuskan diri sendiri, melainkan dapat membunuh dirinya akibat halusinasi berkepanjangan…
Judul : Heavier Than Heaven
Penulis : Charles R. Cross
Penerbit : Alinea
Tahun Terbit : November 2005 (Indonesia)
Jumlah Halaman : 548
ISBN : 979-95978-2-3